Krisis ekonomi tahun 1998 merupakan sebuah fenomena yang sangat mengguncang perekonomian Indonesia. Krisis ekonomi ini dialami oleh hampir semua negara berkembang di Asia Tenggara karena adanya kredit macet dalam skala besar yang kemudian menghambat segala aktivitas perekonomian karena nilai tukar yang bermasalah. Fenomena krisis ini adalah sebuah titik dimana Indonesia harus mengkaji ulang perekonomiannya baik dari sisi ekonomi itu sendiri dan juga kelembagaannya.
Perspektif Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi tahun 1998 adalah krisis yang melanda negara-negara berkembang di Asia, seperti Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan. Tetapi, sumber utama dari krisis tersebut masih belum bisa teridentifikasi dengan tepat, sehingga muncul beberapa pendapat, yaitu:
- First Generation Model (dikembangkan oleh Krugman(1979) dan Flood dan Garber (1986)): Menjelaskan bahwa krisis tahun 1998 diyakini disebabkan oleh krisis mata uang sebagai hasil dari inkonsistensi fundamental dalam memformulasikan kebijakan ekonomi domestik.
- Second Generation Model (dikembangkan oleh Obstfeld (1996)): Menjelaskan bahwa krisis tahun 1998 diyakini disebabkan oelh adanya kepanikan ekspektasi pelaku ekonomi sehingga berpengaruh langsung terhadap kebijakan makroekonomi.
Reformasi Ekonomi Terbalik
Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998, menyebabkan terjadinya reformasi ekonomi di Indonesia. Secara hierarki, reformasi tersebut dapat dibaca dari tiga level berikut:
- Reformasi pada tingkat mikro: terjadi ketika beberapa sektor ekonomi (manufaktur, perbankan, transportasi, dan lain-lain) dideregulasi dan diliberalisasi.
- Reformasi pada tingkat meso: mendesain manajemen pembangunan ekonomi (politik) yang mulai didesentralisasi, yang kemudian dikenal dengan istilah otonomi daerah.
- Reformasi pada tingkat mikro yang berjalan dengan sehat: perubahan sistem persaingan ekonomi untuk merancang ekonomi ke arah persaingan yang sehat sehingga semua pelaku ekonomi memiliki akses yang sama.
Implikasi dari kebijakan reformasi ekonomi dapat dilihat dari lima tampilan berikut:
- Liberalisasi keuangan hanya menjadi instruen menafkahi kepentingan sektor keuangan itu sendiri, bukan menumbuhkan sektor riil.
- Petani makin terjerembab karena kontrol harga dilepas, sementara penentu harga adalah pedangan/distributor.
- Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh non-tradeable sector yang import content-nya tinggi dan penyerapan tenaga kerjanya rendah.
- Marginalisasi pelaku ekonomi tradisional dan skala kecil akibat kalah bersaing dengan pelaku ekonomi besar di sektor perdagangan.
- Akumulasi dari rangkaian kebijakan reformasi ekonomi tersebut membuat ketimpangan pendapatan meningkat seiring laju ekonomi yang tinggi.
Kerapuhan Kelembagaan Makro
Selain adanya pilihan dan urutan kebijakan refomasi ekonomi yang salah, problem reformasi ekonomi yang menghasilkan capaian tidak optimal disebabkan juga oleh ketiadaan kelembagaan, atau lebih tepatnya tidak ada strategi reformasi kelembagaan. Terdapat tiga aspek dalam reformasi kelembagaan pada level makro yang kurang disentuh pada saat pemerintah menjalankan kebijakan reformasi ekonomi, yaitu:
- Kelembagaan reformasi administrasi (administrative reform).
- Sistem hukum (legal system reform).
- Politik (political reform).
Kedangkalan Kelembagaan Mikro
Selain adanya kegagalan untuk menciptakan perubahan kelembagaan makro yang menjadi enablin environment perjalaan reformasi ekonomi, masalah kelembagaan juga muncul pada level mikro (institutional arrangement). Reformasi ekonomi di Indonesia dapat menghasilkan stabilitas mikroekonomi yang relatif bagus, namun meninggalkan residu yang tidak kalah gawat, yaitu kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan pengangguran. Hal tersebut disebabkan oleh faktor, yaitu:
- Meskipun dana dan banyak kebijakan ekonomi sudah diproduksi untuk mengatasi masalah kemiskinan, namun penurunan jumlah orang miskin tidak terjadi secara signifikan. Hal ini dikarenakan pemerintah alpa merumuskan kebijakan langsung yang mengaitkan kelembagaan dengan strategi pengurangan kemiskinan, tidak melalui penciptaan aturan main (rules of the game).
- Pertumbuhan ekonomi yang stabil justru menjadi lahan subur bagi peningkatan ketimpangan.Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor. Pertama, adana tendensi kesnjangan antara inflasi dan upah minimum yang semakin tipis. Kedua, liberalisasi keuangan hanya menjadi instrumen memutar dana dari satu pemilik modal ke pemilik modal lainnya.
- Pengangguran terbuka secara sistematis menunjukkan penurunan, tetapi jumlah pekerja yang tergolong setengah menganggur masih sangat besar.
Komentar
Posting Komentar