kelembagaan dilihat sebagai pencapaian dari proses formal dan informal dari resolusi konflik. Jika konflik tersebut bermuara kepada penciptaan (perubahan) menghasilkan 'irama kerja yang saling menguntungkan' (workable mutually), maka bisa dikatakan proses tersebut telah berhasil. Kesulitan pada saat mendefinisikan kelembagaan itu sendiri. Terkadang untuk memudahkan kelembagaan diberi predikat sebagai kerangka hukum atau hak-hak alamiah (natural rights) yang mengatur tindakan individu. Pada saat yang lain, kelembagaan sebagai mana pun yang bernilai tambah atau kritik terhadap ilmu ekonomi klasik atau hedonik. Bahkan kelembagaan dimaknai sebagai apapun yang berhubungan dengan 'perilaku ekonomi' yang dimana berupaya untuk menghadapkan hal-hal kegiatan dengan perasaan. Menurut Bardhan (1989:3) kelembagaan akan lebih akurat bila didefinisikan sebagai aturan-atyran sosial, kesepakatan, dan elemen lain dari struktur kerangka kerja interaksi sosial.
Dalam mata kuliah ekonomi kelembagaan, saya mempelajari metode baru dalam menganalisis suatu permasalahan ekonomi, yaitu dari sudut pandang kelembagaan. Kelembagaan sendiri merupakan sebuah konsep yang menurut saya sedikit abstrak, tetapi semakin saya mempelajarinya dalam proses perkuliahan, saya dengan perlahan mampu memahami konsep kelembagaan didalam ilmu ekonomi. Dalam mata kuliah ini, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru yang sangat bermanfaat dalam cara berpikir saya dan juga sangat berkesan selama proses perkuliahan. Pertama kali saya mempelajari ilmu ekonomi kelembagaan, saya diperkenalkan pada konsep biaya transaksi. Konsep ini cukup berkesan bagi saya karena memberikan cara berpikir baru bahwa efisiensi dari setiap tindakan ekonomi tidak hanya ditentukan dari biaya dan manfaat produksi/konsumsi saja, melainkan juga harus mempertimbangkan adanya biaya transaksi, yaitu biaya yang muncul diluar fungsi produksi/konsumsi. Biaya transaksi pasti ada di setiap aktivitas ekonomi, dan sama halnya dengan pemikiran klasik dan neoklasik, semakin tinggi biaya (biaya transaksi) yang dikeluarkan, maka semakin tidak efisien aktivitas tersebut. Maka, untuk meminimalisir munculnya biaya transaksi, diperlukan adanya kelembagaan dalam aktivitas ekonomi untuk membentuk aturan main (rules of the game). Konsep biaya transaksi ini kemudian akan berkaitan dengan teori yang saya pelajari selanjutnya dalam ekonomi kelembagaan, yaitu teori kontrak. Pembentukan kontrak merupakan salah satu cara untuk menciptakan rules of the game dalam rangka meminimalisir biaya transaksi. Kontrak ini dapat mengurangi biaya transaksi karena didalam memuat aturan-aturan atau kesepakatan antar pelaku ekonomi yang dapat memperlancar/mempercepat proses dari aktivitas ekonomi. Teori ini memberikan saya gambaran baru terkait bagaimana masyarakat dalam kehidupan nyata melakukan aktivitas ekonominya, yang tidak hanya didasari oleh faktor ekonomi, tetapi juga banyak faktor lain yang dalam prakteknya akan termuat didalam kontrak yang dibentuk dengan pelaku ekonomi lain.
Kesimpulan umum yang dapat saya ambil dari ilmu ekonomi kelembagaan ini adalah bahwa aktivitas ekonomi dalam kehidupan nyata dipengaruhi oleh semua faktor sosial di masyarakat. Tetapi, hal tersebut tidak berarti bahwa masyarakat akan selalu merespon setiap perubahan dari setiap faktor sosial yang terjadi didalam aktivitasnya, melainkan masyarakat akan membentuk pola aktivitas yang memuat seluruh faktor sosial disekitarnya. Pola yang terbentuk secara alami ini akan cenderung mengarah pada inefisiensi karena adanya sifat alami manusia yang cenderung berperilaku oportunistik. Maka, peran kelembagaan disini menjadi penting, yaitu untuk menciptakan aturan main (rules of the game) untuk membentuk pola yang lebih efisien di dalam aktivitas ekonomi masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komentar
Posting Komentar