Analisis ekonomi biaya transaksi adalah salah satu alat analisis yang
populer di dalam ekonomi kelembagaan. Pengukuran biaya transaksi sering
digunakan untuk menentukan efisiensi desain kelembagaan, yaitu bahwa
jika dalam suatu kegiatan ekonomi (transaksi) terdapat biaya transaksi
yang tinggi, maka kegiatan ekonomi tersebut cenderung tidak efisien
secara kelembagaan. Namun, analisis biaya transaksi ini masih memiliki
beberapa kelemahan untuk dapat digunakan dalam analisis operasional,
yaitu:
Definisi dan Makna Biaya Transaksi
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masih belum ada definisi yang pasti untuk menjelaskan apa itu biaya transaksi, sehingga menyebabkan munculnya beberapa cara pandang yang berbeda dari para ahli ekonomi kelembagaan, antara lain:
Rasionalitas Terbatas dan Perilaku Oportunistik
Ada dua asumsi yang mendasari analisis biaya transaksi untuk membuat analisis orgasisasi ekonomi ini menjadi terarah, yaitu asumsi rasionalitas terbatas (bounded rationality) dan perilaku oportunistik (opportunistic). Asumsi rasionalitas terbatas memiliki arti bahwa setiap individu memiliki tingkat atau batas kesanggupan untuk menerima, menyimpan, mencari kembali dan memproses informasi tanpa kesalahan. Konsep rasionalitas terbatas ini didasari oleh dua prinsip, yaitu:
Asumsi yang kedua, yaitu perilaku oportunistik dapat diartikan sebagai upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui praktek yang tidak jujur dalam kegiatan transaksi. Tetapi, keuntungan yang didapat melalui keunggulan produktif, seperti lokasi yang strategis atau keterampilan lebih tidak dianggap sebagai sikap oportunistik.
Biaya Transaksi dan Efisiensi Ekonomi
Biaya transaksi dapat muncul karena ada penyimpangan-penyimpangan berikut:
Determinan dan Variabel Biaya Transaksi
Menurut Zhang (2000:288) Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya biaya transaksi adalah sebagai berikut:
Menurut Beckman (2000:16), ada empat determinan penitng dari biaya transaksi sebagai unit analisis, yaitu:
Sumber:
Yustika, Ahmad Erani. 2013. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Malang: Erlangga.
- Secara teoritis belum ada definisi yang tepat untuk menjelaskan biaya transaksi, sehingga timbul banyak cara pandang yang berbeda diantara ahli ekonomi kelembagaan.
- Setiap kegiatan ekonomi bersifat spesifik, sehingga variabel dan biaya transaksi dari setiap kegiatan ekonomi juga berlaku secara khusus.
- Pengukuran untuk setiap variabel dan biaya transaksi dalam kegiatan ekonomi sulit untuk dilakukan.
Definisi dan Makna Biaya Transaksi
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masih belum ada definisi yang pasti untuk menjelaskan apa itu biaya transaksi, sehingga menyebabkan munculnya beberapa cara pandang yang berbeda dari para ahli ekonomi kelembagaan, antara lain:
- Williamson: Biaya transaksi adalah ongkos untuk menjalankan sistem ekonomi dan biaya untuk menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan.
- North: Biaya transaksi adalah ongkos untuk menspesifikasi dan memaksakan (enforcing) kontrak yang mendasari pertukaran, sehingga dengan sendirinya mencakup semua biaya organisasi politik dan ekonomi yang memungkinkan kegiatan ekonomi mengutip laba dari perdagangan (pertukaran).
- Mburu: Biaya transaksi dapat diartikan untuk memasukkan tiga kategori yang lebih luas, yaitu sebagai biaya pencarian dan informasi, biaya negosiasi dan keputusan atau mengeksekusi kontrak, dan biaya pengawasan, pemaksaan, dan pemenuhan/pelaksanaan.
- Furubotn dan Richter: Biaya transaksi adalah ongkos untuk menggunakan pasar (market transaction cost) dan biaya untuk memakai hak untuk memberikan pesanan (orders) didalam perusahaan (managerial transaction costs).
- North dan Wallis: Biaya transaksi adalah ongkos untuk lahan, tenaga kerja, kapital dan keterampilan kewirausahaan yang diperlukan untuk mentransfer hak-hak kepemilikan (property rights) dari satu atau kelompok orang ke pihak yang lain.
Rasionalitas Terbatas dan Perilaku Oportunistik
Ada dua asumsi yang mendasari analisis biaya transaksi untuk membuat analisis orgasisasi ekonomi ini menjadi terarah, yaitu asumsi rasionalitas terbatas (bounded rationality) dan perilaku oportunistik (opportunistic). Asumsi rasionalitas terbatas memiliki arti bahwa setiap individu memiliki tingkat atau batas kesanggupan untuk menerima, menyimpan, mencari kembali dan memproses informasi tanpa kesalahan. Konsep rasionalitas terbatas ini didasari oleh dua prinsip, yaitu:
- Individu atau kelompok memiliki batas kemampuan untuk memproses dan menggunakan informasi yang tersedia. Adanya keterbatasan ini disebabkan karena informasi yang tersedia sangat kompleks untuk dikelola (informational complexity), sehingga menyebabkan individu sulit untuk memahami dan mengolah data.
- Hubungan sebab-akibat di semua negara didunia tidak mungkin dapat diidentifikasi dengan sempurna hanya dengan mengacu pada kejadian sebelumnya. Akibatnya, setiap pelaku ekonomi akan selalu dihadapkan pada informasi yang tidak lengkap (incomplete information), atau dengan kata lain terjadi ketidakpastian informasi (informational uncertainty).
Asumsi yang kedua, yaitu perilaku oportunistik dapat diartikan sebagai upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui praktek yang tidak jujur dalam kegiatan transaksi. Tetapi, keuntungan yang didapat melalui keunggulan produktif, seperti lokasi yang strategis atau keterampilan lebih tidak dianggap sebagai sikap oportunistik.
Biaya Transaksi dan Efisiensi Ekonomi
Biaya transaksi dapat muncul karena ada penyimpangan-penyimpangan berikut:
- Penyimpangan atas lemahnya jaminan hak kepemilikan.
- Penyimpangan pengukuran atas tugas yang kompleks dan prinsip yang beragam (multiple-task)
- Penyimpangan intertemporal (multiple-principal)
- Penyimpangan yang muncul karena kelemahan dalam kebijakan kelembagaan (institutional environment)
Determinan dan Variabel Biaya Transaksi
Menurut Zhang (2000:288) Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya biaya transaksi adalah sebagai berikut:
- What: the identity of bundle of right. Hak-hak memiliki banyak atribut yang nilai, pengukuran, kebijakan, dan pemaksaannya beragam dari satu jenis dengan tipe yang lain. Kesulitan mendapatkan informasi yang lengkap untuk mengidentifikasi variabilitas ini secara langsung juga mendeskripsikan bagaimana sulitnya menggambarkan hak-hak ini, dan tentunya hal ini mempengaruhi biaya dalam pertukaran
- Who: to identity of agents involved in the exchange. Ini erat dengan faktor-faktor manusia yang muncul dalam asumsi Williamson, dimana rasionalitas terbatas, oportunisme, dan terjepitnya/kurangnya informasi.
- How: the institutions, technical and social, governing the exchang, and how to organize the exchange. Dalam hal ini pasar diandaikan sebagai kelembagaan untuk memfasilitasi proses pertukaran, yang keberadaannya dibutuhkan untuk mengurangi biaya pertukaran sedangkan perusahaan juga dapat dianggap sebagai kelembagaan yang memfasilitasi pertukaran yang saling menguntungkan.
Menurut Beckman (2000:16), ada empat determinan penitng dari biaya transaksi sebagai unit analisis, yaitu:
- Apa yang disebut sebagai atribut perilaku yang melekat pada setiap pelaku ekonomi, yaitu rasionalitas terbatas dan oportunisme.
- Sifat yang berkenaan dengan atribut dari transaksi, yaitu spesifikasi, ketidakpastian, dan frekuensi.
- Hal-hal yang berkaitan dengan struktur tata kelola kegiatan ekonomi, yaitu pasar, dan pengadilan, regulasi, birokrasi publik.
- Faktor yang berdekatan dengan aspek lingkungan kelembagaan, yaitu hokum kepemilikan, kontrak, dan budaya.
Sumber:
Yustika, Ahmad Erani. 2013. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Malang: Erlangga.
Komentar
Posting Komentar